Dua varietas ubi kayu lokal di Sawahlunto, yakni ubi merah Kubang dan ubi putih Kubang, nyatanya mampu menghasilkan produksi unggul dan tak kalah daya saing dengan varietas ubi lainnya di Indonesia. Sehingga kedua varietas ubi kayu dari ‘Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya’ itu kini telah resmi terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian RI.

Sebelum dikirimkan kepada Tim Penguji Pelepasan Varietas Kementerian Pertanian RI, dokumen tanda pendaftaran kedua varietas ubi kayu ini diserahkan oleh Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat, Dr. Jekvy Hendra kepada Walikota Deri Asta yang didampingi Wakil Walikota Zohirin Sayuti.

Dalam penyerahan dokumen tanda pendaftaran, pada Rabu 17 Juli 2019 di Balaikota Sawahlunto, Kepala BPTP Sumbar, Dr. Jekvy Hendra menyebutkan bahwa varietas ubi merah Kubang dan ubi putih Kubang itu terbukti menghasilkan produksi lebih tinggi daripada varietas ubi roti Sungai Tarab dan ubi Jambi Sungai Tarab.

“Kami mencatat, produksi ubi merah Kubang ini mencapai 7,533 kg/rumpun. Disusul ubi putih Kubang itu produksinya 5,516 kg/rumpun. Sementara untuk ubi roti Sungai Tarab, cuma menyentuh produksi 5,005 kg/rumpun. Juga ada ubi Jambi Sungai Tarab, produksinya 5,526 kg/rumpun,” urai Dr. Jekvy.

Ditambahkan Jekvy, untuk uji laboratorium terhadap ubi merah Kubang dan ubi putih Kubang itu dilakukan di Laboratorium Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Dari uji labor, diketahui kadar pati untuk ubi merah Kubang adalah 37,2232 persen, dan ubi putih Kubang 26,2554 persen.

Sebelumnya, untuk uji observasi dilakukan di lahan pertanian masyarakat di kawasan Puncak Polan, Dalimo Gadang Desa Pasar Kubang dan Polak Data Desa Kubang Tangah. Semuanya berlokasi di Kecamatan Lembah Segar.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Sawahlunto, Hilmed mengatakan, ada 4 petani yang berpartisipasi sebagai mitra Dinas Pertanian dalam uji observasi ubi kayu lokal Sawahlunto ini.

“Di musim tanam I tahun 2018 itu petani yang menjadi mitra kita adalah ; Mardias – Edi dan Mismer. Kemudian di musim tanam II tahun 2019 itu petani mitra kita adalah ; Desrita dan Resti Sangseria,” tutur Hilmed.

Sementara, Walikota Deri Asta menyampaikan bahwa kabar bahwa ubi kayu Kubang akan diproses untuk menjadi varietas resmi nasional dan akan dilepas oleh tim ahli di Kementerian Pertanian sangat membanggakan, sekaligus membuktikan bahwa kualitas pertanian di ‘Kota Arang’ teruji dan bisa bersaing di kancah nasional.

“Yang jelas, kita mengincar manfaat efek pertumbuhan ekonomi dari legalitas varietas ini. Dengan menjadi varietas resmi, kita yakin bahwa ubi kayu Kubang ini tidak lagi hanya dikonsumsi pasar lokal, namun mampu berbicara pula di pasar Sumatera Barat dan Indonesia,” kata Deri.

Sebab, kata Deri dirinya melihat bahwa peluang pasar untuk pengembangan varietas ubi kayu ini boleh dibilang sangat menjanjikan. Di Sumbar saja, ubi kayu masih mendominasi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pangan olahan. Peluang inilah yang harus diambil dan dimaksimalkan dengan status varietas resmi dari Kementerian Pertanian nantinya.

“Di momen ini, kita juga mendorong dan akan mengupayakan bagaimana bisa membantu petani Sawahlunto untuk dapat menanam lebih banyak ubi kayu merah Kubang dan ubi kayu putih Kubang ini,” pungkas Deri. (Humas)




ARTIKEL LAIN