88069764_3663657013705511_1202337697507573760_o
88114961_3663655937038952_144753815353032704_o
88213079_3663655533705659_7648434183978614784_o
88248354_3663656300372249_885371327265898496_o
88309116_3663657473705465_627546068279623680_o (1)
88309116_3663657473705465_627546068279623680_o
previous arrowprevious arrow
next arrownext arrow
Shadow

Dengan kondisi kemiringan tanah di ‘Kota Arang’, resiko ancaman tanah longsor memang terbuka lebar terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama. Kini, Pemko Sawahlunto melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meminimalisir resiko ancaman tanah longsor tersebut dengan melakukan penanaman vetiver (akar wangi).

BPBD Sawahlunto sudah mempersiapkan 20.000 bibit vetiver ini, nantinya jika masih diperlukan maka akan diajukan lagi permohonan bantuan tambahan bibit tersebut pada pemerintah pusat. Bibit vetiver yang tersedia tersebut saat ini sudah diberikan pada warga untuk ditanam di kawasan tanah rawan longsor saat gotong royong beberapa hari yang lalu, kemudian juga ditanam bersama oleh Walikota dan jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) beserta jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pada Selasa 03 Maret 2020 di kawasan Puncak Polan, Tanjung Sari Kecamatan Lembah Segar.

Usai penanaman vetiver dan sejumlah tanaman buah – buahan produktif di tanah rawan longsor Puncak Polan itu, Walikota Sawahlunto Deri Asta menyebutkan bahwa karena potensi tanah longsor tidak hanya di Puncak Polan maka dihimbau Pemerintah Desa (Pemdes) untuk ikut melaksanakan penanaman vetiver ini.

“Ini salah satu upaya kita melindungi masyarakat dari ancaman longsor, jadi pada tanah – tanah yang kemiringannya rawan ini kita tanami dengan vetiver serta tanaman lain yang akarnya kuat sehingga bisa membantu mencegah pergerakan tanah. Selain Desa/Kelurahan/Dusun, kelompok – kelompok masyarakat kita harap juga ikut berkontribusi. Untuk persoalan bibit, silahkan menghubungi BPBD,” ujar Deri Asta.

Terkait kawasan Puncak Polan sendiri, yang memang dalam beberapa waktu belakangan ini terus mengalami longsor sehingga Walikota mengingatkan pada masyarakat untuk menghindari membangun perumahan atau pun alih fungsi hutan di sana.

Untuk langkah – langkah lainnya dalam upaya penanganan bencana, Walikota Deri Asta mengatakan kompetensi jajaran pemerintah maupun masyarakat harus terus ditingkatkan. Terutama pada prioritas pencegahan (mitigasi) bencana tersebut.

Tentang vetiver (akar wangi) ini, dijelaskan oleh Kepala BPBD Sawahlunto Adriyusman merupakan tanaman dengan akar yang kuat dan mampu menghunjam sedalam 3 – 4 meter sehingga mampu menahan gerak tanah. Vetiver ini akan bertumbuh sempurna dalam masa paling lambat 4 bulan.

“Khusus untuk kawasan Puncak Polan ini, selain dengan menanam vetiver, kita juga memberikan rasa aman pada warga dengan memasang sistem alarm untuk mengingatkan jika terjadi pergerakan tanah yang signifikan menjelang longsor. Alatnya akan segera kita pasang,” kata Adriyusman.

Vetiver, ujar Adriyusman tak hanya membantu mencegah pergerakan tanah, namun juga memiliki potensi manfaat lain bagi warga sekitar yakni sebagai pakan ternak.

Penanaman vetiver di Tanjung Sari ini, dilaksanakan setelah Apel Kesiapsiagaan Bencana di Lapangan Ombilin. (Humas)




ARTIKEL LAIN

No Comment

Comments are closed.