Historika pertambangan Sawahlunto memang telah diakui dunia, namun di pelosok desa masih ada anak-anak dan penduduk asli daerah ini yang tidak kenal dengan sejarah kota, bahkan tidak tahu dengan keberadaan museum.

Dalam kegiatan Master Class Museum pada 17 & 18 Juli 2019 yang digelar Dinas Kebudayaan Peninggalan Sejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto di beberapa SD yang posisinya cukup jauh dari pusat kota, sebagian anak mengangkat tangan dan mengaku, tidak tahu jika kotanya memiliki museum dengan sejarah pertambangannya yang diakui dunia.

Kasi Permuseuman Risnawati salah satu mentor dalam kegiatan tersebut menjelaskan Master Class Museum sengaja menyentuh sekolah-sekolah terjauh dari pusat kota untuk memperkenalkan anak-anak pada sejarah kota warisan budaya dunia, memancing rasa ingin tahu dan bangga pada kotanya sehingga mereka termotifasi untuk berkunjung ke museum-museum yang ada di Kota ini dan menjadi agen-agen promosi kota.

Beberapa Sekolah Dasar yang dikunjungi tim Master Class Museum yakni SDN Lumindai, SDN 09 Silungkang, SD 08 Kumbayau dan SDN 12 Kubang.

Antusias pelajar sangat tinggi terlihat dalam kegiatan tersebut, rasa penasaran tercurah dalam pertanyaan-pertanyaan yang aktif mereka ajukan.

Risnawati mengungkapkan saat ini keberadaan 7 Museum dan Iptek Center yang ada di Kota Sawahlunto menjadi salah satu tujuan favorit kunjungan studi sejarah bagi pelajar sekolah, tidak hanya dari Sumatera Barat, tapi juga dari sekolah-sekolah diluar Sumbar.

Namun sekolah-sekolah di Sawahlunto sendiri, khususnya yang posisinya jauh dari pusat Kota bisa dikatakan masih jarang mengunjungi museum.

Untuk meningkatkan daya tarik dan tingkat kunjungan, kedepan pihak museum merencanakan mengadakan aktifi melibatkan pelajar pengunjung museum, sehingga kunjungan museum menjadi lebih hidup.(humas)




ARTIKEL LAIN