SAWAHLUNTO, HUMAS – Mengandalkan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) pembuatan bahan pewarna alam untuk Songket Silungkang, Desa Balai Batu Sandaran, Kecamatan Barangin melaju mulus sampai ke tingkat 5 besar nasional dalam Lomba UP2K itu. Prestasi masuk dalam 5 besar nasional tersebut berkemungkinan bisa menjadi lebih bagus dengan datangnya tim penilai dari pusat yang memantau langsung realita UP2K di Desa Balai Batu Sandaran tersebut, Selasa (25/07).

Saat ini, UP2K di Desa Balai Batu Sandaran memang sedang berkembang pesat. Total ada 6 UP2K di Desa dengan 3 Dusun tersebut. Selain UP2K pembuatan bahan pewarna alami untuk Songket Silungkang yang menjadi andalan, juga ada UP2K Minyak Serai Wangi, UP2K Minyak Nilam, UP2K Songket Silungkang, UP2K Souvenir dari limbah rumah tangga dan lainnya.

Keberadaan UP2K tersebut pun juga telah memberikan dampak positif, terutama bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat. Ibu-ibu rumah tangga yang mengelola UP2K tersebut sekarang memiliki pemasukan tambahan yang terbilang cukup lumayan dari hasil penjualan produk-produk UP2k tersebut.

Berbagai manfaat tersebutlah yang turut mengantarkan UP2K Desa Balai Batu Sandaran lolos sampai ke 5 besar nasional. Melengkapi penilaian, tim penilai dari pusat yang dipimpin Irene Rosaline mengunjungi langsung Desa yang dipimpin Kepala Desa Masril, S.Sos tersebut guna mencocokkan data administratif yang dikirim ke panitia dengan realita di lapangan. Penilaian dari tim ini nanti juga berpeluang membuat posisi 5 besar yang diamankan Desa Balai Batu Sandaran meningkat lebih baik lagi.

Walikota Ali Yusuf menyebutkan bahwa Pemko Sawahlunto terus memberikan dukungan baik langsung maupun tidak langsung terhadap UP2K Desa Balai Batu Sandaran sesuai dengan salah satu visi Pemko yakni mewujudkan masyarakat mandiri dan produktif. “Sesuai visi Pemko yakni perwujudan masyarakat mandiri dan produktif, UP2K ini merupakan salah satu jalannya. Sehingga tentu terus kita dorong dan kembangkan agar dapat lebih baik dan daya gunanya menjangkau lebih banyak masyarakat dan lebih banyak keuntungan”, sebutnya.

Sementara, untuk menghadapi lomba dan penilaian tersebut, Wako Ali Yusuf menegaskan bahwa Sawahlunto selalu siap dengan tantangan. “Kota ini sejak dahulunya sudah terbiasa menghadapi rintangan dan tantangan. Juga kita terbiasa mengakali keterbatasan, sehingga kita selalu berinovasi dan berkreasi. Sehingga menghadapi penilaian dalam lomba ini tentu Desa Balai Batu Sandaran sudah siap pula“, ujar Ali Yusuf.

Namun, Wako Ali Yusuf juga menekankan bahwa segala yang diekspose pada tim penilai tersebut memang bukan seremonial atau mengada-ada untuk kepentingan lomba saja. “Kami selalu instruksikan agar di kota ini tidak terbiasa dengan seremonial-seremonial belaka. Hal-hal yang dilakukan secara seremonial dampaknya akan semu saja, tidak benar-benar teraplikasikan dalam realita kehidupan”, tutur Ali Yusuf.

Tentang hal ini, juga diperkuat oleh pernyataan Kepala Desa Masril, yang menyampaikan bahwa apa yang diekspose memang seperti itulah kenyataannya yang berjalan di Balai Batu Sandaran. “Dengan segala keterbatasan, termasuk Sumber Daya Manusia (SDM) kami, inilah yang dapat kami lakukan, yang pasti kami tidak bisa mengada-ada karena memang beginilah keadaannya”, jelas Masril. (*)




ARTIKEL LAIN