Meningkatkan kualitas tanaman kakao, dan meningkatkan pendapatan petani, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Peternakan Kota Sawahlunto bersama petani kakao di Desa Kubang Tangah menerapkan pola tumpang sari tanaman Kakao dengan sereh wangi yang dilakukan pada senin 10/02/2020 di Desa yang dikenal dengan sebutan Nagari Model Kakao.

Heni Purwaningsih Sekretaris Dinas terkait mengatakan dengan pola tumpang sari dua jenis tanaman ini akan sangat menguntungkan petani.

Disatu sisi tanaman Kakao terlindung dari serangan hama, karena hama kakao tidak menyukai aroma tanaman yang berbau menyengat ini. Keuntungan lain daun Sereh juga bisa dijual utk bahan dasar minyak Atsiri.

“Masalah yang banyak dikeluhkan petani kakao saat ini adalah hama busuk buah. Kita berharap dengan dilakukannya tumpang sari sereh wangi ini, produksi kakao akan bagus baik jumlah maupun kualitas buahnya” ujarnya.

Untuk sereh wangi, ini termasuk tanaman yang mudah tumbuh dan tidak disukai hama termasuk hama babi. Cara membudidayakan sereh wangi pun mudah dan murah. Biaya penanaman maupun biaya perawatan terjangkau. Sekali menanam bibit sereh wangi, panen perdana dapat dilakukan pada umur 6 bulan, dan panen selanjutnya panen 3 bulan sekali.

Bahkan bila dirawat dengan baik, sereh wangi produktif hingga 10 tahun. Sereh wangi bukanlah tanaman yang ‘manja’, tanaman ini dapat ditanam dengan berbagai kondisi tanah dan iklim. Baik di lahan-lahan tidur atau kurang produktif maupun lahan bekas tambang.

Untuk panen daun atsiri mentah basah bisa dijual langsung ke Penyulingan Atsiri di Desa Balai Batu Sandaran dengan harga Rp.500/kg untuk dijadikan minyak Atsiri.(humas)




ARTIKEL LAIN