Guna mencegah pemalsuan uang, Bank Indonesia (BI) berupaya memastikan masyarakat tahu mana uang asli dan mana uang yang diduga palsu. Cara yang dilakukan adalah melakukan pengenalan ciri-ciri keaslian uang rupiah.

 

 

 

Salah satu cara memberikan pengenalan keaslian uang rupiah tersebut yakni melalui sosialisasi. Di Kota Sawahlunto, sosialisasi ciri-ciri uang rupiah dan penegakan hukum tindak pidana pemalsuan uang serta gerakan non tunai tersebut dilaksanakan Selasa (17/07) lalu di GPK.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat, Endi Dwi Tjahyono mengatakan bahwa uang rupiah sudah memiliki sampai 12 unsur pengaman yang membuatnya sulit dipalsukan.

“Setiap uang kertas punya sekitar 9 – 12 unsur pengaman, di antaranya benang pengaman, water mark dan rectoverso,” sebut Endi.

Selain itu, pihaknya juga memastikan masyarakat harus memahami dulu langkah 3 D yang sejak dulu disosialisasikan oleh BI. 3 D ini yakni ; dilihat, diraba dan diterawang. Ini menjadi langkah pertama guna mencegah pemalsuan uang.

Sosialisasi tersebut diikuti unsur pemerintahan kota Sawahlunto, perwakilan pelajar SLTA, masyarakat dan unsur terkait lainnya. Asisten 1 Pemko Sawahlunto, Dedi Ardona membuka sosialisasi tersebut.

 

Terkait Gerakan Non Tunai, Asisten 1 Pemko Sawahlunto Dedi Ardona menyampaikan bahwa Pemko Sawahlunto telah mulai menerapkan hal ini sejak awal 2018 ini.

“Sawahlunto sudah ada aturannya, yakni Instruksi Walikota Tahun 2017, yang membunyikan bahwa transaksi untuk biaya perjalanan dinas, makan minum, alat tulis kantor dan lainnya harus melalui rekening,” kata Dedi.




ARTIKEL LAIN