“Lokomotif Mak Itam yang ini bukan buatan Jerman, tapi dibuat oleh kreator-kreator asli daerah” ujar Hendri Thalib.

Menghadirkan replika Mak Itam E 1060, sebuah lokomotif legendaris yang lekat dengan sejarah.

Hendri Thalib Kepala Dinas Kebudayaan dan Peninggalan Sejarah Kota Sawahlunto mengatakan replika Mak Itam yang kini berdiri di rel depan Museum kereta, dirancang mampu menarik 2 gerbong kapasitas 50 penumpang.

Berbeda dengan lokomotif asli yang membutuhkan batubara untuk berjalan, replika Mak Itam dirancang dengan mesin tenaga diesel sehingga untuk operasional dari sisi biaya jauh lebih hemat dan lebih ramah lingkungan.

Lebih lanjut ia menyebutkan pengadaan replika dengan dana 71 juta dari APBD merupakan langkah untuk mensiasati kondisi lokomotif E1060 asli yang tidak mampu lagi berjalan.

Menghidupkan lokomotif Mak Itam asli sudah diupayakan saat Pemerintahan Ali Yusuf dengan melobi Kementrian Perhubungan dan PT.KAI. Namun sayangnya perbaikan oleh PT.KAI yang dikerjakan di tahun 2017 tidak tuntas karna masalah sparepart yg tidak tersedia lagi.

“Ditargetkan replika Mak Itam akan beroperasi mengangkut wisatawan pada akhir tahun 2018. Dengan dukungan DPRD Insya Allah pengadaan gerbong akan bisa direalisasi melalui anggaran perubahan 2018” papar Hendri Thalib.

Saat ini pihaknya tengah mengusulkan perda retribusi harga tiket replika Mak Itam sebesar 10 ribu rupiah per orang. Dengan rute dari Museum Kereta masuk terowongan Lubang Kalam hingga Muaro Kalaban.

Sensasi berkereta di dalam terowongan menembus kaki bukit Barisan sepanjang 835 meter yang dikerjakan oleh orang rantai di tahun 1892 hingga 1894 ini akan menjadi kenangan tersendiri bagi wisatawan.

“Mudah-mudahan nanti setelah selesai mengurus perizinan, ada dukungan dari PT.KAI untuk memperbaiki rel lintasan kereta dari Saringan hingga ke Silungkang,” sebut Papi, sapaan akrab Hendri Thalib.

Ia juga berharap PT.KAI akan memajang Mak Itam asli di depan Museum Kereta sehingga dapat dimanfaatkan oleh wisatawan sebagai objek foto.




ARTIKEL LAIN