previous arrow
next arrow
Slider

Meski sehari – hari hanya bekerja mengumpulkan barang bekas untuk dijual, namun semangat Sarintan atau akrab dipanggil Wawak untuk menabung sangat tinggi. Perempuan berusia 62 tahun itu mulai menabung sejak hampir 20 tahun yang lalu, buah komitmen menabung itu kini beliau bisa membayar untuk biaya umrah.

Sehingganya, pada 27 Oktober nanti, warga Dusun Bukik Sibanta, Desa Sikalang, Kecamatan Talawi itu bakal segera berangkat umrah ke tanah suci.

Mendengar kisah Sarintan yang sangat inspiratif itu, memancing perhatian dan apresiasi dari Walikota Sawahlunto Deri Asta. Walikota muda nan ramah senyum itu kemudian datang langsung menemui Sarintan ke rumahnya, Selasa 03 September 2019.

“Selamat kepada ibu Sarintan, kisah ibu berhasil umrah dengan menabung sejak lama ini, walaupun hanya dengan menjual barang – barang bekas merupakan cerita yang sangat inspiratif. Kisah ibu mencerminkan keteguhan dan komitmen dalam mewujudkan niat ke tanah suci. Ada pelajaran dan inspirasi yang bisa kita dapat,” kata Deri.

Dalam kesempatan itu, sebagai bentuk apresiasi Walikota Deri Asta juga memberikan bantuan pribadi berupa sejumlah uang.

“Kita berharap, kisah ibu Sarintan memberikan motivasi bagi masyarakat Sawahlunto lainnya, untuk kembali bersemangat menabung dan percaya bahwa kita bisa menggapai mimpi, asalkan berani berusaha, rajin dan berkomitmen,” ujar Deri, yang dalam kesempatan mengunjungi Sarintan ini didampingi Kabag Kominfo, Persandian dan Humas (Kominperhumas) Setdako Sawahlunto, Dodi Febrizal.

Sarintan, atau warga Sikalang biasa memanggilnya Wawak, bercerita bahwa dirinya mulai rajin menabung sejak tahun 1980-an lalu.

“Dulu awalnya sewaktu suami masih hidup, saya ikut bantu-bantu bikin batu bata, ya kira – kira tahun delapan puluh waktu itu. Nah, hasil dari jual batu bata itu saya selalu sisihkan untuk ditabung,” tutur Wawak.

Selanjutnya, sekian tahun belakangan usaha pembuatan batu bata itu tidak berlanjut lagi, Wawak beralih profesi mengumpulkan barang – barang bekas.

“Saya terbiasa bangun jam 3 dini hari, selesai shalat Tahajud itu langsung keliling mencari barang-barang bekas. Pulangnya jam 5, mandi langsung Subuh. Nanti pagi sampai jam 9 atau 10 menyortir barang-barang tersebut,” kata Wawak menceritakan kesehariannya.

Untuk harga barang bekas tersebut saat ini, diakui Wawak memang terjadi penurunan harga.

“Harga jualnya merosot. Kini sekilo itu tak sampai seribu rupiah harganya,” ungkap Wawak.

Meski begitu, Wawak bersyukur karena dirinya rajin menabung sejak dahulu pada masa harga jual barang bekas itu masih terbilang tinggi, mencapai Rp 7.000/Kg.

“Saya memang selalu menyisihkan untuk ditabung. Walaupun hanya ada 5.000 rupiah atau 2.000 rupiah, tetap ditabung,” kata Wawak.

Berangkat 27 Oktober nanti, Wawak akan umrah selama 10 hari di tanah suci Mekkah. Dikatakan beliau, bahwa dirinya membayar Rp 26 juta untuk biaya umrah tersebut. Semua biaya tersebut dibayar Wawak menggunakan uang tabungannya. (Humas)




ARTIKEL LAIN