Di saat banyak orang asing tertarik dan mempelajari silek, maka jangan sampai kita yang di Minang ini malah tidak peduli dan acuh dengan silek. Sebab jika silek tidak lagi kita pedulikan, bisa-bisa nanti malah kita yang belajar silek kepada orang-orang asing tersebut.

Hal itu disebutkan Wakil Walikota Zohirin Sayuti ketika menutup “Sawahlunto Balega”, Sabtu (10/11) di pelataran Museum Kereta Api Kampung Teleng – Sawahlunto.

Ajang “Sawahlunto Balega” yang juga masuk dalam rangkaian “Silek Arts Festival” dihelat menjadi salah satu momen agar ketertarikan dan kepedulian generasi muda kepada silek dapat terpancing. Sehingga dengan itu, silek dapat terus dilestarikan dan dikembangkan.

Selain memancing antusiasme masyarakat – terkhusus generasi muda – gelaran “Sawahlunto Balega” juga bermakna sebagai ajang silahturrahmi dan meningkatkan persatuan antar tuo-tuo silek. Bahkan, berbagai “up date” perkembangan silek juga bisa terpantau di sana.

“Kita tentu bangga bahwa sekarang silek ini dipelajari oleh banyak orang asing, ada dari Eropa, ada dari Amerika. Mereka sangat tertarik dan mau mempelajari silek kita ini. Namun perlu kita sadari juga, jangan sampai mereka tertarik dengan silat. Sementara di kita, malah acuh tak acuh dan tidak menghargai silek,” tutur Wawako Zohirin.

“Kalau kita acuh saja. Nanti apa tidak malu, kalau kita orang Minang malah belajar silek kepada orang Eropa, orang Amerika? Jangan sampai terjadi seperti itu. Maka, mari kini kita bersama peduli terhadap silek,” ajak mantan Sekda Sawahlunto itu.

Dikatakan Zohirin, semua pihak memiliki peran dalam melestarikan silek ini. “Kita semua punya dan harus memberikan kontribusi melestarikan budaya silek ini,” ujar Wawako.

Terkhusus pada para tuo silek, berperan agar silek ini abadi, tentu harus terus diwariskan pada generasi penerus. Wawako Zohirin Sayuti meminta agar tuo-tuo silek ini tak bosan mengajarkan silek kepada generasi muda.

Sementara, untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan budaya termasuk silek tersebut, Wawako Zohirin menyebut Pemko terus mendukung. Malahan, jika ada iven-iven silek, bertaraf provinsi maupun nasional, Sawahlunto siap menjadi tuan rumah.

“Ajang-ajang silek ini, baik provinsi maupun nasional. Kita nyatakan bahwa Sawahlunto bersedia dan siap menjadi tuan rumah. Menyelenggarakan kegiatan silek ini bukan hal baru bagi kita. Sebab 2009 lalu, kita juga pernah menggelar silek tradisi di Desa Rantih, kala itu kita masih bersama mendiang bapak Amran Nur,” cerita Zohirin.

Sebab, dalam gelaran kegiatan silek itu, antusiasme para tuo-tuo silek, juga Kerapatan Adat Nagari (KAN) setempat terbilang sangat tinggi. Ajang “Sawahlunto Balega” sendiri, KAN Kenagarian Kubang bersama jajaran pemuda kenagarian yang terkenal dengan penganan “Karupuak Kubang” itu sangat bersemangat membantu Pemko Sawahlunto melaksanakan iven yang berlangsung selama dua hari tersebut.

“Sawahlunto Balega”, meski bertajuk “balega”, namun dalam acaranya tak hanya menampilkan “balega” alias basilek. “Sawahlunto Balega” juga menyajikan Festival Karawitan yang diikuti 11 tim dari Sekolah Menegah Pertama (SMP).

Kepala Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Sawahlunto Hendri Thalib, melaporkan bahwa di Festival Karawitan, selain dari SMP di Sawahlunto, juga ikut SMP dari kabupaten tetangga.

“Untuk Festival Karawitan ini, ada 5 SMP dari Sawahlunto yang ikut. Sementara dari luar, itu 3 dari Solok dan 3 juga dari Sijunjung”, kata Thalib.

Mewarnai ‘Sawahlunto Balega” itu, dikatakan Hendri Thalib tak hanya penampilan silek dari 9 kabupaten/kota peserta yang memukau penonton. “Kita juga menampilkan silek dari undangan yang berasal dari Jawa Barat. Bahkan juga ditampilkan silek oleh negara tetangga kita, Malaysia,” cerita dia.

Di gelaran “Sawahlunto Balega”, tampil para tuo silek dari Maninjau, Solok, Solok Selatan, Sijunjung, Batu Sangkar, Lintau dan Sawahlunto sendiri.

Sementara, prosesi “mambantang lapiak” dan “mangguluang lapiak” dilakukan oleh jajaran KAN Kenagarian Kubang.

Pada penutupan “Sawahlunto Balega”, selain dihibur dengan saluang dangdut, juga diumumkan pemenang lomba baca puisi antar guru di Sawahlunto Poetry Reading Fest II, Lomba Karawitan serta Festival Silek Tradisi.

Dari Festival Silek Tradisi, para penyaji terbaik yang menjadi juara yakni ; Talago Biru – Agam (Doni, Faris, Dinda dan Niken) kemudian Ibadurrahman (Berli Satria & Adrian Permana), selanjutnya Ganggang Sapadi (Vohallen Akbar dan Dede Saputra), juga Alang Ponggongan (Ichwan Nofri W, dan Muhammad Fajri).

Penyelenggaraan “Sawahlunto Balega” ini terangkum juga dalam “Silek Arts Festival” yang berkolaborasi dengan platform nasional Indonesiana. PIC Silek Arts Festival Viveri Yudhi, yang juga merupakan pejabat di Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar menyebut “Silek Arts Festival” mengusung tema “Panjapuik Piutang Lamo”.

“Banyak utang kita pada silek ini. Manfaat silek tak hanya diambil secara ilmu bela diri-nya. Namun lebih, banyak sisi-sisi lain, seperti sisi filosofisnya yang sangat berguna dan dipakai oleh orang-orang Minang. Jadi jika selama ini, silek tak kita perhatikan. Momen Silek Arts Festival ini menjadi wahana kita menjemput utang pada silek ini,” papar Yudi.

Viveri Yudi lantas menekankan, pada silek sebenarnya berfokus bukan cuma pada soal bela diri semata, namun pada latihan mental dan spiritualnya. “Kita ketahui, bela diri silek tak hanya mengajarkan teknik-teknik bela diri. Namun yang menjadi dasar adalah melatih mental – spiritual pesileknya. Inilah yang menjadi jiwa dari silek itu,” ujar dia.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan juga mendukung dan memfasilitasi gelaran “Silek Arts Festival” tersebut, kata Viveri Yudhi. (Humas)




ARTIKEL LAIN