“Dengan ditetapkannya pertambangan Ombilin sebagai Warisan Budaya Dunia, maka Sawahlunto harus memiliki planing menyambut wisatawan mancanegara. Tidak hanya butuh hotel berstandar tapi juga harus membenahi cagar budaya dan museum-museum yang ada” ujar Kresno Yulianto pakar Arkeologi Universitas Indonesia dalam dialog sharing ilmu dengan sejumlah pengelola museum di Kota Sawahlunto pada rabu (10/7) di Gudang Ransum.

Menurut Dosen UI yang pernah melakukan penelitian dan menulis buku Tematik Museum Sawahlunto ini, Sawahlunto harus memperkaya koleksi museum beserta cerita sejarah dibaliknya karna ia melihat banyak pajangan bukti sejarah yang sudah ada, masih minim dalam penyajian ceritanya.

Ia memaparkan untuk peningkatan kualitas sebuah museum harus memiliki kurator dan edukator.
Kurator yang melakukan penelitian sehingga menghasilkan data-data, cerita dan fakta sejarah terbaru, sedangkan edukator adalah penyaji data dan fakta dengan teknik cerita yang menarik.

Dijabarkan pria yang sedang menjalankan tugas pengabdian masyarakat ini, museum yang menarik tidak hanya bicara masa lalu, tapi juga mampu mengadaptasi teknologi modern, punya program edukasi lingkungan dan kegiatan yang merangkul komunitas serta mampu mempengaruhi masyarakat agar bangga dengan identitasnya.

Sementara itu Risnawati Kepala Bidang Permuseuman mengungkapkan bahwa kehadiran dosen UI tersebut merupakan salah satu tindak lanjut MOU Pemko dengan UI dimana pengelola museum Sawahlunto mendapat kesempatan konsultasi dan menggali ilmu dari akademisi dan pakar dari Universitas tertua di Indonesia tersebut untuk peningkatan kualitas.

Risnawati juga menyebutkan pihaknya dalam waktu dekat akan melakukan kegiatan sosialisasi dan edukasi ke sekolah-sekolah SD dan SLTP untuk membangun kebanggaan anak2 akan sejarah dan identitas kota Sawahlunto.(humas)




ARTIKEL LAIN