243283228_6310161279055058_5798762151087562902_n
243413084_6310162142388305_3771391930426757774_n
243487649_6310161085721744_4260465872031388745_n
243568663_6310161789055007_2760122410388898933_n
243586513_6310162312388288_4446467334066878304_n
243586694_6310160879055098_8759795823331140540_n
243641416_6310161572388362_8745904684652091163_n
243643722_6310162512388268_5011060198874381680_n
243821895_6310161992388320_657219960357604496_n
243878672_6310162639054922_4441445951157812791_n
previous arrowprevious arrow
next arrownext arrow
Shadow
SAWAHLUNTO – Upaya peningkatan pencegahan dan penanganan bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sawahlunto meluncurkan sistem Panggilan Darurat Bencana (PERDANA) serta aplikasi Sistem Informasi Pelaporan Bencana (SIPOLAN) dan membentuk Forum Pengurangan Resiko Bencana (F – PRB). PERDANA dan SIPOLAN serta F – PRB tersebut secara resmi dikukuhkan dan diluncurkan oleh Walikota Sawahlunto Deri Asta bersama jajaran Forkopimda, pada Rabu 29 September 2021 tadi di GPK.
Kepala Kesbangpol – PBD Kota Sawahlunto, Adriyusman, mengatakan bahwa PERDANA dan SIPOLAN serta F – PRB ini sangat bermanfaat dalam mengatasi kendala keterbatasan data/informasi dalam pencegahan dan penanganan bencana.
“Data/informasi yang lengkap ini sangat berguna dalam menunjang kerja kami di lapangan. Selama ini boleh dikata kita masih kekurangan di data – data ini, makanya sekarang ini melalui F – PRB, PERDANA dan SIPOLAN ini data bisa lebih dilengkapi,” kata Adriyusman.
Dicontohkan Adriyusman, pernah ada kejadian bencana pohon tumbang menutupi jalan. Karena informasi yang sampai ke pihak BPBD tidak lengkap, sehingga personel dan peralatan yang dikirimkan tidak mencukupi atau seimbang dengan kejadian yang ditangani.
“Jika dari awal datanya lengkap maka tentu kami bisa bekerja lebih cepat, langsung turun dengan kekuatan sesuai kejadian, tidak perlu menunggu dipanggilnya tambahan personel dan alat,” ungkap Adriyusman.
Keberadaan PERDANA serta SIPOLAN serta F – PRB ini dipesankan Walikota Sawahlunto Deri Asta untuk meningkatkan supply data dan pemetaan kerawanan bencana. Tak hanya itu, F – PRB juga diajak untuk mendampingi masyarakat dalam melakukan pencegahan potensi kerawanan bencana.
“Bencana paling rawan di Sawahlunto adalah tanah longsor. Kami berpesan pada F – PRB ini untuk turun dan mendampingi masyarakat yang rumahnya rawan terkena longsor ini, ajak mereka melakukan langkah – langkah pencegahan. Ini sangat bermanfaat dalam meminimalisir dampak kerugian dari bencana,” ujar Walikota Deri Asta.
Dengan sekarang sudah ada sistem, aplikasi dan petugasnya, Walikota Deri Asta meminta agar kinerja dalam pencegahan dan penanganan bencana harus meningkat.
“Ini langkah kita dalam melindungi masyarakat dari resiko bencana. Sedapat mungkin kita cegah, tapi yang namanya bencana tentu tidak semuanya bisa dicegah. Maka yang tidak dapat dicegah, maka kita tanggulangi semaksimal mungkin dengan sistem dan adanya F – PRB ini,” ujar Walikota Deri Asta.
Ketua DPRD Sawahlunto, Ny. Eka Wahyu yang menghadiri kegiatan tersebut berpesan agar keberadaan PERDANA, SIPOLAN dan F – PRB pelaksanaannya dimonitoring dan dievaluasi berkelanjutan.
“Ini hal yang bermanfaat tidak hanya sekarang namun dalam waktu lama ke depannya. Sehingga agar terus optimal kinerjanya, harus dipantau dan dievaluasi terus menerus. Jika ada kendala segala macam, segera bisa dilakukan solusinya sehingga tidak menganggu/mengurangi kinerja,” ujar Ny. Eka Wahyu.
Jajaran Forkopimda lain yang menghadiri kegiatan itu yakni Kapolres Sawahlunto, AKBP. Ricardo Condrat Yusuf, Dandim 0310 Sawahlunto Sijunjung, Letkol. Inf. Endik Hendra Sandi, dan Kasi Intel Kejaksaan Negeri Sawahlunto, Dede Mauladi.




ARTIKEL LAIN

No Comment

Comments are closed.