Kuliah umum yang bertajuk “Strategi dan Tantangan Pengakuan Warisan Dunia Unesco” tersebut digagas oleh Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas dilaksanakan pada Kamis tanggal 24 Oktober 2019 bertempat di Aula Dekanat FISIP Universitas Andalas dengan peserta sebanyak 100 orang berasal dari mahasiswa S1 dan S2 berbagai jurusan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas.

Dalam paparannya, Walikota Sawahlunto, Deri Asta selaku pemateri menyampaikan bahwa untuk sampai ditetapkan menjadi warisan dunia oleh Unesco dengan label “Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto” pada sidang ke 43 Unesco di Baku tanggal 6 Juli 2019 lalu, tentunya tidak mudah dan melalui berbagai kendala dan hambatan yang secara bertahap bisa diselesaikan.

72887765_3241726212565262_1779926570215931904_n
74209767_3241726705898546_6234637091662200832_n
72666310_3241726269231923_6156328842739843072_n
72846239_3241726199231930_1303550929710088192_n
73381282_3241726799231870_7404199700460470272_n
74329826_3241728325898384_3307937795099590656_n
74535823_3241728202565063_246016010182721536_n
76187672_3241726472565236_6241321340675031040_n
75043224_3241726432565240_58314377295560704_n
75237585_3241728079231742_9131804845932544_n
73324655_3241728152565068_8131420719750840320_n
72960146_3241727055898511_2555982011906916352_n
previous arrowprevious arrow
next arrownext arrow
Shadow

Alhamdulillah, sekarang telah ditetapkan menjadi salah satu warisan budaya dunia oleh Unesco. Pencapaian tersebut tentu tidak terlepas dari dukungan dan kerja keras seluruh stakeholder yang terkait.

Untuk memperkaya informasi bagi peserta kuliah umum, Deri Asta juga memaparkan sejarah Kota Tua Sawahlunto mulai dari cadangan batu bara ditemukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai hasil tambang tersebut dikapalkan melalui pelabuhan emmahaven (teluk bayur) di Padang untuk dikirim ke eropah sebagai bahan bakar melalui jalur kereta api yang dibangun oleh Pemerintah Belanda dengan investasi yang cukup besar pada zamannya.

Kawasan tambang terintegrasi di Sawahlunto, jalur kereta api serta kelengkapannya yang melalui 7 kabupaten/kota di Sumatera Barat dan Pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur) di Padang, ketiga hal tersebut merupakan item inti yang ditetapkan oleh Unesco sebagai Warisan Budaya Dunia, pungkasnya.

Dalam memberikan kuliah umum tersebut, Walikota Sawahlunto didampingi oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Kepala Barenlitbangda dan Kepala Bagian Humas.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas, Dr. Alfan Miko, M.Si dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Sawahlunto yang mampu melakukan transformasi bekas kawasan tambang menjadi destinasi wisata.

Sebagian besar kawasan bekas tambang didunia setelah tidak ada lagi aktifitas penambangan biasanya akan ditinggalkan dan menjadi kota mati, namun dengan kegigihan, keseriusan serta kebersamaan pemerintah dan masyarakat dan stakeholder lainnya, Kota Sawahlunto saat ini telah bertransformasi menjadi destinasi wisata yang diakui oleh Unesco menjadi Warisan Budaya Dunia, ini hal yang sangat luar biasa, ucapnya.

Pada kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan MoU antara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas dengan Pemerintah Kota Sawahlunto tentang Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat oleh Civitas Akademika Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Kota Sawahlunto beberapa waktu kedepan (humas).




ARTIKEL LAIN

No Comment

Comments are closed.